Kamis, 27 Oktober 2016

Sesat Pikir



A.   Pengantar
Sesat pikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah, dan menyesatkan, suatu gejala berpikir yang salah yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.

B.    Fenomena Sesat Pikir
Dalam Logika, term “kepalsuan” dipergunakan dalam arti yang lebih sempit, yaitu palsu berarti keliru dalam menalar atau dalam berargumen.
Ada dua kemungkinan kegagalan argumen.
1.  Kegagalan dapat terjadi karena suatu argumen memuat premis yang terbentuk dari proporsi yang keliru.
Contoh :
Premis 1    : ABRI harus menjalankan dwifungsi sipil-militer.
Premis 2    : Tentara bayaran tidak memperhatikan fungsi sipil.
Kesimpulan: Jadi, ABRI tanpa dwifungsi akan sama dengan tentara bayaran.
2.    Kegagalan dapat terjadi karena suatu argumen ternyata memuat premis-premis yang tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari.
Contoh :
Premis 1    : Sifat Tuhan adalah kekal abadi.
Premis 2    : Pancasila memuat nilai-nilai yang kekal abadi.
Kesimpulan: Tuhan dan Pancasila adalah identik.

Setiap keliruan dalam menalar itu merupakan argumen yang salah. Ada dua macam argumen yang salah, yakni sebagai berikut.

Pertama, argumen yang sebenarnya keliru namun tetap diterima umum karena banyak orang yang menerima argumen tersebut tidak merasa kalau mereka itu sebenarnya telah tertipu. Sesat pikir semacam ini disebut Kekeliruan Relevansi. Argumen-argumen semacam itu bersifat persuasif dan dimaksudkan ntuk mempengaruhi aspek kejiwaan orang lain. Argumen-argumen semacam itu misalnya terdapat dalam pidato politik dalam kampanye, pernyataan pejabat yang dimaksudkan untuk meredam situasi, reklame untuk menawarkan barang-barang produksi, dan sebagainya.

Kedua, argumen yang keliru karena kesalahan dalam penalaran yang disebabkan oleh kecerobohan dan kurang perhatian orang terhdap pokok persoalan yang terkait, atau keliru karena dalam menggunakan term dan proposisi yang memili ambiguitas makna dari bahasa yang dipergunakan dalam berargumen. Sesat pikir semacam ini disebut penalaran ambigu atau Ambiguitas Penalaran. Misalnya, term salah prosedur yang sering diucapkan pejabat untuk berdalih bila mendapatkan kritik dari masyarakat. Term tersebut memiliki arti lebih dari satu, yaitu dapat diartikan sebagai salah interpretasi terhadap suatu perintah/instruksi, mempergunakan metode atau langkah yang berbeda dan tidak dimaksudkan dalam petunjuk pelaksanaan sebuah proses kegiatan, atau pengambilan putusan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan sebagainya.

C.    Kekeliruan Relevansi
Kekeliruan relevansi biasanya terjadi karena ruang lingkup argumen menunjukkan bahwa premis-premis secara logis tidak memiliki relevansi dengan kesimpulan yang hendak dicapai. Ada beberapa macam jenis kekeliruan relevansi.

1.    Argumentum ad Baculum
Argumentum ad Baculum berarti pembenaran argumen atas dasar kekuasaan. Kekeliruan ini dapat terjadi bila argumen yang diajukan disertai dengan pengaruh kekuasaan seseorang yang berargumen untuk melaksanakan pembenaran sebuah kesimpulan. Argumentum ad baculum biasanya diikuti dengan pernyataan “kekuasaan membuat segalanya benar”. Penggunaan metode “tangan besi” atau sistem totalitarianisme untuk menekan lawan politik adalah contoh kontemporer kekeliruan argumen ini. Dengan metode intimidasi sebagai mana terjadi dalam kehidupan politik. Dalam skala internasional argumentum ad baculum dapat memicu timbulnya konflik antarbangsa, penindasan negara adikuasa terhadap negara miskin, dan sebagainya.

2.    Argumentum ad Homeinem (I)
Argumentum ad Homeinem berarti argumen yang diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Ada dua interpretasi yang dapat diterapkan untuk memahami kekeliruan ini.
a.     Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen. Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenernya tidak relavan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.
b.    Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan pandangan seseorang terhadap sebuah pernyataan menjadi sikap tidak suka atau antipati kepada seseorang yang mengeluarkan pernyataan tersebut.

3.    Argumentum ad Homeinem (II)
Argumentum ad Homeinem (II) menitikberatkan pada hubungan yang ada di antara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya. Hal ini dapat terjadi ketika masing-masing pihak berargumen atas dasar titik tolak dari ruang lingkup argumen yang berbeda satu sama lain. Jadi, dengan kata lain, Argumen yang termasuk dalam kategori sesat pikir argumentum ad homeinem pada umumnya menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi.

4.    Argumentum ad Ignorantiam
Argumentum ad Ignorantim adalah argumen yang bertolak dari anggapan yang tidak mudah dibuktikan kesalahannya atau bahkan juga tidak dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannta. Sesat pikir semacam ini dapat terjadi karena alasan-alasan fenomena psikis seseorang, telepati, pendapat atau pandangan paranormal, dan sebagainya.
5.    Argumentum ad Misericordiam
Argumentum ad Misericordiam adalah argumen yang didasarkan atas perasaan belas kasihan sehingga orang mau menerima atau membenarkan kesimpulan yang diperoleh dari argumen tersebut. Argumen semacam ini banyak dipergunakan dalam praktek-praktek bantuan hukum ataupun pelayanan keadilan lainnya.

6.    Argumentum ad Populum
Argumentum ad Populum sering kali diterjemahkan sebagai “kekeliruan yang diterima umum” atau “salah kaprah”. Bahkan argumen ini sering dipergunakan untuk mengendalikan emosi masyarakat terhadap kesimpulan yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang jelas. Argumen ini banyak digemari oleh biro reklame, propagandis, para politisi, dan sebagainya.

7.    Argumentum ad Verecundiam
Dalam upaya untuk membantu pikiran seseorang, yaitu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan rumit, kita sering memerlukan pendapat atau pandangan seorang pakar yang seakan-akan kita pandang sebagai “dewa” ilmu pengetahuan. Orang sering beranggapan bahawa jika suatu opini dinyataka oleh pakar-paker yang dikagumi, maka opini itu selalu dipandang paling benar. Kita pada umumnya mengakui bahwa gagasan seorang pakar ilmu dalam kekhususan bidangnya dapat memberi bobot dan mendukung bukti-bukti ilmiah yang relavan.

8.    Accident
Sesat pikir Accident tampak di dalam perkara-perkara yang sifatnya khusus atau bersifat kebetulan, namun kemudian dianggap berlaku umum sehingga penerapannya yang dijadikan hukum umum tersebut dalam banyak hal menjadi tidak relavan sama sekali. Jadi, sebenarnya apa yang secara khusus benar dalam sesuatu peristiwa tertentu belum tentu benar bagi peristiwa yang sifatnya universal sebab ruang lingkupnya atau keadaan lingkungan dapat membedakan sebuah kasus tertentu degan kasus yang lainnya.

9.    Converse Accident
Dalam upaya memahami dan mecari ciri khas suatu kasus tertentu, orang biasanya memiliki kecenderungan untuk memusatkan perhatiannya pada satu hal tertentu yang mungkin sudah dianggap populer.

10. False Cause
Ada dua kemungkinan orang keliru dalam menyimpulkan sebab terjadinya sesuatu peristiwa.
a.     Non Cusa Pro Causa. Kemungkinan kesalahn pikiran ini sebetulnya bukan menjadi sebab yang sebenarnya bagi dampak suatu peristiwa.
b.    Post Hoc Ergo Propter Hoc. Kemungkinan kesalahan pikiran yang kedua menunjuk pada penarikan kesimpulan bahwa sebuah peristiwa dapat dijadikan sebab bagi peristiwa yang lainnya karena menurut faktanya peristiwa yang pertama secara kebetulan terjadi mendahului yang lain.

11. Petitio Principii
Bila orang ingin menetapkan kebenaran sebuah proposisi, sering kali orang mempertanyakan premis-premis yang sudah diterima umum dari mana proposisi tersebut diturunkan (sebagai kesimpulan).

12. Complex Elenchi
Jika ada pertanyaan yang sulit dijawab, misalnya orang yang ditanya hanya disuruh menjawab “ya” atau “tidak”, maka jika yang ditanya menjawab “ya” pihak penanya pun juga belum mendapatkan jawaban yang sepenuhnya benar karena masih mengandaikan jawaban “tidak”. Demikian juga halnya dengan soal-soal ujian yang dimulai dengan pertanyaan “sejauh mana...dan seterusnya”, mengandaikan semua jawabannya benar.

13. Ignoratio Elenchi
Ignoratio Elenchi berarti ‘kesimpulan yang tidak relavan’. Kekeliruan dalam penarikan kesimpulan yang tidak relavan ini dapat terjadi bilamana sebuah argumen yang sebenarnya disusun dengan maksud untuk membentuk sebuah kesimpulan lain yang justru berbeda dengan yang dimaksudkan.

  
D.   Ambiguitas Argumen
Sesat pikir jenis ini terjadi dalam argumen-argumen yang susunannya terdiri dari kata-kata dan pernyataan yang ambigu, mendua arti, atau memiliki makna ganda. Bahkan kata-kata atau pernyataan tersebut memiliki makna yang mudah berubah-ubah. Ada beberapa jenis kekeliruan argumentasi yang disebabkan oleh ambiguitas tersebut.
1.    Ekuivokasi
Banyak sesat pikir terjadi karena orang mempergunakan kata-kata yang memiliki sifat Ekuivok, yaitu kata-kata yang sama bunyinya tetapi mempunyai arti yang berbeda. Misalnya, kata genting bisa berarti atap rumah, gawat, sangat sempit, hampir putus. Jika kata tersebut kita kacaukan dengan cara mempergunakannya dalam satu konteks dengan makna yang berbeda-beda, disinilah terdapat sesat pikir.
2.    Amphiboly
Sesat pikir Amphiboly terdapat dalam argumen di mana pengajuan premis-premisnya memiliki konstruksi gramatikal yang ambigu. Sebuah pernyataan dikatakan mengandung amphiboly bila batasan maknanya tidak jelas. Ini terjadi karena struktur tata bahasa yang mudah diubah sesuai dengan “kebutuhan”.
3.    Accent
Argumen yang mengandung sesat pikir Accent biasanya berupa pernyataan yang sifatnya “menipu” pembaca/pendengar karena adanya perubahan makna. Perubahan makna ini terjadi karena perubahan tekanan pada bagian kalimat. Artinya, sebuah kalimat akan mengalami perubahan makna bila terjadi perubahan kata yang ditekankan.
Kalimat-kalimat yang mengandung Accent pada hakikatnya mengorbankan kebenaran demi sebuah sensasi. Teknik argumentasi semacam ini banyak dipergunakan dalam headings berita-berita surat kabar yang dicantumkan dengan maksud supaya mendatangkan banyak pembeli.
4.    Komposisi
Komposisi tata bahasa sebuah pernyataan dapat membuat orang keliru dalam berargumen. Ada dua kemungkinan keliru.
Pertama, penalaran dapat keliru karena atribut atau keterangan dari bagian-bagian argumen sebagai keterangan pernyataan keseluruhan. Sebagai contoh, orang mengakui bahwa petunjuk dari seseorang yang kita anggap sesepuh masyarakat dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan. Namun, itu tidak berarti bahwa segala sesuatu dapat kita lakukan karena sudah didasarkan atas petunjuk sesepuh masyarakat.
Kedua, kekeliruan penalaran dapat terjadi karena atribut atau keterangan bagian-bagian tertentu dari sebuah argumen dianggap identik dengan atribut pada bagian-bagian yang lain. Sebagai contoh, karena sebuah bus memerlukan BBM lebih banyak daripada sebuah mobil pribadi, maka disimpulkan bahwa semua bus memerlukan BBM lebih banyak daripada semua mobil lainnya.
5.    Pembagian
Kekeliruan argumen atas dasar konsep pembagian juga mempunyai dua kemungkinan.
Pertama, apa yang benar secara keseluruhan pasti juga benar untuk bagian-bagiannya. Sebagai contoh adalah pandangan orang yang berpikir demikian : “Pak Parto adalah seorang bupati dan dihormati warga masyarakat di wilayahnya dan Pak Parto adalah putra dari Bu Wignyo, maka bu Wignyo juga harus dihormati seperti seorang bupati”.
Kedua, apa yang benar bagi sesuatu bagian, dianggap benar juga untuk bagian-bagian lainnya. Contoh :
Semua binatang buas adalah pemakan daging.
Beruang panda adalah binatang buas.
Jadi, beruang panda adalah pemakan daging.
Kesimpulan dalam argumen tersebut di atas jelas keliru sebab makanan pokok seekor beruang panda bukan daging, melainkan daun bambu. Beruang panda memang termasuk binatang buas, namun bukan berarti bahwa beruang panda adalah pemakan daging.

E.    Strategi Menghindari Sesat Pikir
Untuk menghindari kekeliruan relevansi, misalnya kita sendiri harus tetap bersikap kritis terhadap peranan bahasa dan penggunaannya merupakan hal yang sangat menolong dan penting. Realisasi keluwesan dan keanekaragaman penggunaan bahasa dapat kita manfaatkan untuk memperoleh kesimpulan yang benar dari sebuah argumen.

Sesat pikir karena ambiguitas kata atau kalimat terjadi secara sangat “halus”. Untuk menghindari terjadinya sesat pikir tersebut, kita harus dapat mengupayakan agar setiap kata atau kalimat memiliki makna yang tegas dan jelas. Untuk itu kita harus dapat mendefinisikan setiap kata atau term yang kita pergunakan.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Berpikir Kritis

Apa itu berpikir kritis? 



  • Menurut John Dewey, berpikir kritis adalah “pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional.” Bagi dia, berpikir kritis adalah berpikir aktif. Dua ciri utama dari berpikir aktif, yakni berpikir secara terus-menerus dan teliti.

  •  Menurut Edward Glaser dalam bukunya berjudul An Experiment in the Development of Critical Thinking, (Teacher’s College, Columbia University, 1941), bahwa seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kritis, jika kerja nalar dan kemampuan argumetasinya melibatkan tiga hal, yakni (1) sikap menanggapi berbagai persoalan, menimbang berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengalaman dan kemampuan memikirnya secara mendalam. (2) Pengetahuan akan metode/bernalar dan inkuiri logis. (3) Keterampilan atau kecakapan menerapkan metode-metode tersebut.

Kesimpulan:
1.    Kemampuan berpikir kritis menurut adanya usaha untuk selalu menguji keyakinan atau pengetahuan apa pun.
2.    Berpikir juga menuntut adanya kemampuan untuk mengenali, mengidentifikasi, dan memahami persoalan serta menemukan solusi atasnya.

3.    Kemampuan mengidentifikasi atau menemukan hubungan antarberbagai proposisi, menarik kesimpulan-kesimpulan atau generalisasi-generalisasi, menguji kembali kesimpulan yang telah diambil, serta mempertanyakan kembali keyakinan dan pengetahuan yang selama ini diterima begitu saja.

  • Menurut Richard W. Paul dalam bukunya berjudul Logic as Theory of Validation: An Essay in Philosophical Logic (University of California, Santa Barbara, 1968), bahwa berpikir kritis adalah proses disiplin secara intelektual di mana seseorang secara aktif dan terampil memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesakan, dan mengevaluasi berbagai informasi yang dia kumpulkan atau yang dia ambil dari pengalaman, dari pengamatan (observasi), dari refleksi yang dilakukannya, dari penalaran, atau dari komunikasi yang dilakukan.


Sebenarnya mereka ingin menegaskan bahwa berpikir kritis itu menyangkut dua hal, yakni (1) seperangkat keterampilan yang harus dimiliki untuk memproses dan memahami informasi serta keyakinan-keyakinan; (2) kebiasaan yang didasarkan pada komitmen intelektual untuk selalu mendasarkan setiap pengambilan keputusan dan tindakan pada proses kritis tersebut.
Berpikir kritis tidak bertujuan untuk menyerang, apalagi menyalahkan pendapat seseorang. Dengan berpikir kritis, kita justru menolong orang itu, membuatnya lebih kritis terhadap keyakinan dan pengetahuannya dan membantu dia untuk mempertanggungjawabkannya secara rasional. 

Langkah-langkah dalam berpikir kritis


  1. Mengenali masalah.
  2. Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah.
  3. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan untuk penyelesaian masalah.
  4. Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan.
  5. Menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas dalam membicarakan suatu persoalan atau suatu hal yang diterimanya.
  6.  Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan.
  7.  Mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan.
  8. Menarik kesimpulan-kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan.


Kemampuan dasar berpikir kritis
  1. Menempatkan diri pada posisi yang jelas terhadap sebuah permasalahan.
  2. Pemikiran yang diberikan relevan dengan topik yang dibicarakan.
  3. Argumen harus rasional.
  4. Mengambil keputusan untuk menerima atau menolak sebuah klaim dengan alasan yang jelas.
  5. Keputusan harus datang dari diri sendiri.


Isu
Dalam pengertian luas, isu adalah setiap persoalan yang menimbulkan masalah atau ketidakpastian. Sikap kritis terhadap isu adalah meragukannya, mempertanyakan dan mempersoalkannya. Isu muncul ketika sebuah klaim atau pendapat/pernyataan dipersoalkan. Isu dan pertanyaan saling terkait. Isu selalu berkaitan dengan kata tanya, seperti “berapa banyak”, “apa”, “kapan”.

Mengidentifikasi Isu
Mengapa kita begitu sulit mengidentifikasikan isu?
Pertama, tidak adanya pemetaan terhadap isu. Kedua, keinginan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah klaim yang tidak dikuasai dengan baik. Ketiga, dalam banyak percakapan, sering terjadi bahwa tanggapan yang diberikan berbeda dengan permasalahan yang sedang dibicarakan.

Bagaimana kita mengidentifikasikan sebuah isu?
Pertama, mencari kesimpulan atas setiap argumen yang dikemukakan. Kedua, menemukan argumen yang disampaikan. Argumen digunakan sebagai petunjuk untuk menemukan isu. Melalui kesimpulan yang ada kita akan mengetahui posisi yang diambil seseorang terhadap sebuah isu.

Isu faktual dan tidak faktual
Kita perlu membedakan isu yang faktual dari isu yang tidak faktual. Isu faktual dicirikan oleh metode yang jelas untuk mendudukkan persoalan serta dapat diukur dengan standar tertentu, sedangkan isu non faktual tidak demikian dan sifatnya kualitatif.

Logika dan berpikir kritis
Berpikir kritis berkaitan dengan logika. Logika merupakan sesuatu yang dekat dengan kehidupan sadar kita. Pentingnya mempelajari logika sebagai sebuah ilmu formal.
     A.   Beberapa Pengertian Logika
a.    Konteks umum
Dalam konteks umum, kata “logika” sering diartikan sebagai masuk akal, wajar, pantas bisa diterima atau dipahami.
b.    Konteks ilmiah
Dua pemikir (filsuf) yang secara khusus berbicara mengenai logika sebagai ilmu.
1.    Irving Copi (28 Juli 1917-19 Agustus 2002), seorang filsuf asal Amerika Serikat, berpendapat bahwa logika adalah studi tentang metode-metode dan prinsip-prinsip yang digunakan dalam membedakan penalaran yang baik dan benar dari penalaran yang buruk dan salah.
2.    Norman Geisler dan Ronald Brooks dalam buku mereka berjudul Come, Let Us Reason: An Introduction to Logical Thinking (1990), berpendapat bahwa logika adalah kajian tentang penalaran yang benar atau penyimpulan yang valid (sah) dan dapat mengenali adanya kesalahan-kesalahan berpikir baik secara formal maupun informal.
Dalam artinya yang khusus, logika sebenarnya adalah kajian dalam proses penalaran yang bertolak dari penerapan prinsip-prinsip dalam sebuah penalaran yang tepat.

     B.    Logika dan Ilmu Pengetahuan
Ada jenis pengetahuan yang membutuhkan sistematisasi, koherensi dan metode tertentu, jenis pengetahuan ini kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmiah yang bisa kita definisikan sebagai disiplin sistematis, metodis, rasional dan koheren yang menyelidiki aspek tertentu dari realitas.
Dalam kaitannya dengan syarat-syarat ilmu pengetahuan tersebut, logika memegang peranan sangat penting. Logika menjadi semacam alat ukut yang harus digunakan untuk menentukan bukan saja kadar keilmiahan dalam suatu teori ilmu pengetahuan yang dirumuskan, namu juga validitas teori ilmu pengetahuan.

Pemecahan masalah
Bila Anda mau memecahkan suatu masalah, Anda harus membangun argumen sendiri. Beberapa premis seharusnya menggambarkan situasi problematis yang Anda hadapi.
Satu jenis latihan yang bermanfaat untuk membantu menguatkan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah adalah teka-teki logika, atau “pengasah otak”. Dalam jenis latihan ini situasi persoalan/masalah (problem) digambarkan sebagai kumpulan data lepas yang tak berhubungan, atau proposisi yang diberikan sebagai benar dalam pernyataan yang disajikan dalam teka-teki. Dan jawaban terhadap satu pertanyaan tertentu atau kumpulan pertanyaan yang dikemukakan, akan menghasilkan pemecahan masalah.



Jumat, 30 September 2016

Immanuel Kant


Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar Jerman abad ke-18 yang memiliki pengaruh sangat luas bagi dunia intelektual. Pengaruh pemikirannya merambah dari wacana metafisika hingga etika politik dan dari estetika hingga teologi. Lebih dan itu, dalam wacana etika ia juga mengembangkan model filsafat moral baru yang secara mendalam mempengaruhi epistemologi selanjutnya.

Immanuel Kant (lahir di Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun). Kota itu sekarang bernama Kaliningrat di Rusia. Dia berasal dari keluarga pengrajin yang sederhana. Ketika Kant masih muda, usaha ayahnya bangkrut. Kehidupan meraka harus didukung oleh keluarga besar orang tuanya. Kant penuh dengan kerendahan hati dan sangat disiplin.

Kant kemudian menjadi guru besar untuk logika dan metafisika di Universitas Konisberg. Dia secara rutin menyajikan kuliah tentang geografi fisik. Hal ini dilakukannya sepanjang tahun sampai tahun 1796. Dalam pengantar kuliahnya, dia selalu menegaskan tempat geografi dalam dunia ilmiah. Dia memberikan landasan falsafi bagi geografi sebagai pengetahuan ilmiah.

Minat Kant dalam geografi fisik tidak dirangsang oleh pengalamannya menghadapi alam di berbagai belahan dunia tetapi muncul dari penyelidikan filsofis atas pengetahuan empiris. Bagi Kant, geografi adalah ilmu empiris yang ingin menunjukkan alam sebagai suatu sistem. Geografi, menurutnya merupakan ilmu tentang fenomena fisik dan budaya yang tersusun dalam ruang bumi.