Apa itu berpikir kritis?
- Menurut John Dewey, berpikir kritis adalah “pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional.” Bagi dia, berpikir kritis adalah berpikir aktif. Dua ciri utama dari berpikir aktif, yakni berpikir secara terus-menerus dan teliti.
- Menurut Edward Glaser dalam bukunya berjudul An Experiment in the Development of Critical Thinking, (Teacher’s College, Columbia University, 1941), bahwa seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kritis, jika kerja nalar dan kemampuan argumetasinya melibatkan tiga hal, yakni (1) sikap menanggapi berbagai persoalan, menimbang berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengalaman dan kemampuan memikirnya secara mendalam. (2) Pengetahuan akan metode/bernalar dan inkuiri logis. (3) Keterampilan atau kecakapan menerapkan metode-metode tersebut.
Kesimpulan:
1. Kemampuan berpikir kritis menurut adanya usaha untuk selalu menguji
keyakinan atau pengetahuan apa pun.
2. Berpikir juga menuntut adanya kemampuan untuk mengenali,
mengidentifikasi, dan memahami persoalan serta menemukan solusi atasnya.
3. Kemampuan mengidentifikasi atau menemukan hubungan antarberbagai
proposisi, menarik kesimpulan-kesimpulan atau generalisasi-generalisasi,
menguji kembali kesimpulan yang telah diambil, serta mempertanyakan kembali
keyakinan dan pengetahuan yang selama ini diterima begitu saja.
- Menurut Richard W. Paul dalam bukunya berjudul Logic as Theory of Validation: An Essay in Philosophical Logic (University of California, Santa Barbara, 1968), bahwa berpikir kritis adalah proses disiplin secara intelektual di mana seseorang secara aktif dan terampil memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesakan, dan mengevaluasi berbagai informasi yang dia kumpulkan atau yang dia ambil dari pengalaman, dari pengamatan (observasi), dari refleksi yang dilakukannya, dari penalaran, atau dari komunikasi yang dilakukan.
Sebenarnya mereka
ingin menegaskan bahwa berpikir kritis itu menyangkut dua hal, yakni (1)
seperangkat keterampilan yang harus dimiliki untuk memproses dan memahami
informasi serta keyakinan-keyakinan; (2) kebiasaan yang didasarkan pada
komitmen intelektual untuk selalu mendasarkan setiap pengambilan keputusan dan
tindakan pada proses kritis tersebut.
Berpikir kritis
tidak bertujuan untuk menyerang, apalagi menyalahkan pendapat seseorang. Dengan
berpikir kritis, kita justru menolong orang itu, membuatnya lebih kritis
terhadap keyakinan dan pengetahuannya dan membantu dia untuk
mempertanggungjawabkannya secara rasional.
Langkah-langkah dalam berpikir kritis
- Mengenali masalah.
- Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah.
- Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan untuk penyelesaian masalah.
- Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan.
- Menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas dalam membicarakan suatu persoalan atau suatu hal yang diterimanya.
- Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan.
- Mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan.
- Menarik kesimpulan-kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan.
Kemampuan dasar berpikir kritis
- Menempatkan diri pada posisi yang jelas terhadap sebuah permasalahan.
- Pemikiran yang diberikan relevan dengan topik yang dibicarakan.
- Argumen harus rasional.
- Mengambil keputusan untuk menerima atau menolak sebuah klaim dengan alasan yang jelas.
- Keputusan harus datang dari diri sendiri.
Isu
Dalam pengertian
luas, isu adalah setiap persoalan yang menimbulkan masalah atau ketidakpastian.
Sikap kritis terhadap isu adalah meragukannya, mempertanyakan dan
mempersoalkannya. Isu muncul ketika sebuah klaim atau pendapat/pernyataan
dipersoalkan. Isu dan pertanyaan saling terkait. Isu selalu berkaitan dengan
kata tanya, seperti “berapa banyak”, “apa”, “kapan”.
Mengidentifikasi Isu
Mengapa kita
begitu sulit mengidentifikasikan isu?
Pertama, tidak adanya
pemetaan terhadap isu. Kedua,
keinginan untuk mengalihkan perhatian dari sebuah klaim yang tidak dikuasai
dengan baik. Ketiga, dalam banyak
percakapan, sering terjadi bahwa tanggapan yang diberikan berbeda dengan
permasalahan yang sedang dibicarakan.
Bagaimana kita
mengidentifikasikan sebuah isu?
Pertama, mencari
kesimpulan atas setiap argumen yang dikemukakan. Kedua, menemukan argumen yang disampaikan. Argumen digunakan sebagai
petunjuk untuk menemukan isu. Melalui kesimpulan yang ada kita akan mengetahui
posisi yang diambil seseorang terhadap sebuah isu.
Isu faktual dan tidak faktual
Kita perlu
membedakan isu yang faktual dari isu yang tidak faktual. Isu faktual dicirikan oleh
metode yang jelas untuk mendudukkan persoalan serta dapat diukur dengan standar
tertentu, sedangkan isu non faktual tidak demikian dan sifatnya kualitatif.
Logika dan berpikir kritis
Berpikir kritis
berkaitan dengan logika. Logika merupakan sesuatu yang dekat dengan kehidupan
sadar kita. Pentingnya mempelajari logika sebagai sebuah ilmu formal.
A. Beberapa Pengertian Logika
a.
Konteks umum
Dalam konteks umum, kata “logika” sering diartikan
sebagai masuk akal, wajar, pantas bisa
diterima atau dipahami.
b.
Konteks ilmiah
Dua pemikir (filsuf) yang secara khusus berbicara
mengenai logika sebagai ilmu.
1.
Irving Copi (28 Juli 1917-19 Agustus 2002), seorang filsuf asal
Amerika Serikat, berpendapat bahwa logika adalah studi tentang metode-metode
dan prinsip-prinsip yang digunakan dalam membedakan penalaran yang baik dan
benar dari penalaran yang buruk dan salah.
2.
Norman Geisler dan Ronald Brooks dalam buku mereka berjudul Come, Let Us Reason: An Introduction to Logical Thinking (1990),
berpendapat bahwa logika adalah kajian tentang penalaran yang benar atau
penyimpulan yang valid (sah) dan dapat mengenali adanya kesalahan-kesalahan
berpikir baik secara formal maupun informal.
Dalam artinya yang khusus, logika sebenarnya adalah kajian dalam proses
penalaran yang bertolak dari penerapan prinsip-prinsip dalam sebuah penalaran
yang tepat.
B. Logika dan Ilmu Pengetahuan
Ada jenis pengetahuan yang membutuhkan sistematisasi, koherensi dan
metode tertentu, jenis pengetahuan ini kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan
Ilmiah yang bisa kita definisikan sebagai disiplin
sistematis, metodis, rasional dan koheren yang menyelidiki aspek tertentu dari
realitas.
Dalam kaitannya dengan syarat-syarat ilmu pengetahuan tersebut, logika
memegang peranan sangat penting. Logika menjadi semacam alat ukut yang harus
digunakan untuk menentukan bukan saja kadar keilmiahan dalam suatu teori ilmu
pengetahuan yang dirumuskan, namu juga validitas teori ilmu pengetahuan.
Pemecahan masalah
Bila Anda mau memecahkan suatu masalah, Anda harus membangun argumen
sendiri. Beberapa premis seharusnya menggambarkan situasi problematis yang Anda
hadapi.
Satu jenis latihan yang bermanfaat untuk membantu menguatkan kemampuan
seseorang dalam memecahkan masalah adalah teka-teki logika, atau “pengasah
otak”. Dalam jenis latihan ini situasi persoalan/masalah (problem) digambarkan
sebagai kumpulan data lepas yang tak berhubungan, atau proposisi yang diberikan
sebagai benar dalam pernyataan yang disajikan dalam teka-teki. Dan jawaban
terhadap satu pertanyaan tertentu atau kumpulan pertanyaan yang dikemukakan,
akan menghasilkan pemecahan masalah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar